Search This Blog


Trilogi Schoolaholic Princess: The Miracle Boys, Romansa Singapura, Simfoni Cinta
Lilypie Next Birthday Ticker

Saturday, July 10, 2010

Menjawab Ijul

Ijul, thanks a lot buat "daftar temuan". Udah kuprint, ntar kalo kerjaanku agak longgar dikit, siap ku-compile. Ini jawaban buat kamu untuk pertanyaan bernomor (moga2 memuaskan).

Pertama, saya ingin tahu bagaimana seorang Donald bisa berteman dengan Wiro, di mana Wiro adalah bersepupu dengan Sharon yang adalah teman Maroon

Donald dan Wiro sama-sama ada di Boston, Amrik. Dan biasanya, orang Indonesia yang tinggal di LN itu lebih akrab (seperti paguyuban), suka kumpul2, makan2, baik dalam 17 Agustusan atau bazaar gereja dsb., tidak peduli mereka sudah ganti paspor atau belum. Modal ya cuma saling senyum, bisa nyolot dalam Bhs Indo atau (Bhs Jawa). Fenomena ini terjadi terutama di Eropa dan Amrik (hasil membaca KoKi).

Kedua, termasuk juga kebetulan Donald satu tempat fitness bersama Romeo II (ada dua nama Romeo di novel ini) yang nantinya adalah calon suami Sharon, teman Maroon, kok bisa?
-Pemakaian nama Romeo: pernah mikir nggak, mungkin memang ada cewek yang takdirnya pacaran terus dengan cowok yang namanya / mukanya / tipenya itu-itu aja. Itulah yang terjadi pada Sharon. Dia stuck sama cowok yang namanya Romeo.
-Biasanya setauku cowok2 itu berteman karena demen aktivitas yang sama. Donald di akhir2 cerita demen fitness (makanya badannya jadi lebih kekar). Bule2 itu pada umumnya itu ramah2, khususnya di Amrik , walau cuma basa-basi (Bhs Jawa: grapyak) - pengalamanku di Amrik, total strangers aja pas di bus stop sama peron kereta pada saling menyapa (termasuk menyapaku): Hello, Happy Easter! Good morning! Have a nice evening! Atau pada nanya aku dari mana (kali karena tampang Asia yang bukan sipit Cina). Budaya basa-basi bertegur sapa ini beda jauh sama budaya  cuek bebek di Sg atau Jakarta. Jadilah Donald dan (suami) Sharon berteman saking sering ketemu di tempat fitnes dan akhirnya ngobrol.

Ketiga, saya ingin tahu mengapa Donald bisa bertugas sebagai dokter di Singapura dan secara kebetulan Maroon sedang mengambil spesialisasi keahlian kedokterannya di negeri Singa itu.
Profesi dokter - apalagi pada usia 30-40 awal itu masih penuh "percobaan pribadi" - misal: mau karier di negara mana. Dr Dede yang kujadikan narasumber buat info kesehatan di novel ini pernah berkarier di US, UK, sebelum kembali ke Sg - demikian juga para dokter spesialis yang sering kusambangi di sini, rata2 pernah berkarier di negara lain, yang populer itu: Oz, UK (dan negara2 Pesemakmuran) plus US - padahal semua ya baru 30-40an usianya.Orang2 Indo yang berobat ke NUH rata2 berkomentar: astaga-naga, dokter spesialisnya masih muda2, tapi udah profesor dsb.

Selain negara, para dokter yang "keliling dunia" itu juga harus memutuskan mau di RS mana - swasta atau Pemerintah, mau ngajar di fakultas atau mau terima pasien atau riset di lab (atau kombinasinya),  atau mau kerja buat WHO, atau mau ambil spesialis bagian yang lebih detail apa (misal udah jadi dokter jantung, terus mau spesialis jantung khusus anak2). Life is full of choices for them!

Untuk Maroon, mengapa dia ambil spesialisasi di Sg - itu karena dekat dari Jakarta, di mana keluarganya bermukim. Biasa anak perempuan lebih "digondeli" ortu supaya jangan jauh2. Dan memang ada beberapa dokter wanita lulusan Indonesia yang memang ambil spesialisasi di NUS (thumbs up! saya salut dengan mereka).

Keempat, sedang ngapain kah Donald ke Westminster Abbey pada Kamis 18 Juni 2009 ketika Maroon juga secara kebetulan pergi ke situ. Saya perlu logic-nya.
Sebenarnya Donald mau mengetes apakah setelah 10 tahun berlalu (semenjak tragedi di hari pernikahan dengan alm. tunangan), apakah ia masih trauma dekat-dekat Westminster Abbey. Dan dia masih penasaran, apakah dulu Maroon kecil yang dijumpainya di situ - itu terjadi beneran atau kagak. Kadang, dengan mendatangi tempat aslinya, kita bisa memastikan perasaan kita yang sesungguhnya akan suatu peristiwa (dan bukan cuma memikirkan perasaan kita). Sori ya, lupa nulis di novel. (Terlalu fokus di Maroon, sampai lupa cerita soal Donald-nya hiks).

Maroon blingsatan mencari kesana-kemari sosok Donald di Singapura. Lah, kan di handphone Maroon ada nomor kontak Donald (seingat saya tidak diceritakan Donald mengganti nomor kontaknya dan meskipun di halaman 203 disebutkan Maroon tak yakin itu nomor kontak Donald, setidaknya ia bisa mencobanya, ataukah karena amnesia maka seluruh kejadian di saat amnesia akan terlupa ketika ingatan sudah kembali? Dunno).

Panggilan SLI itu sering tidak muncul nomor pemanggil (atau nomornya tidak bisa dihubungi karena pake VoIP). Dari adegan Marron mencari info soal Donald ke fakultas yang ditolak admin, I assume pembaca bisa menyimpulkan bahwa Maroon tidak bisa lagi mengontak no hp Sg si Donald. --> maths people love to assume :P
Donald ditekan ortu buat cepat2 menikah, eh malah diputus Maroon. Jadi logis dong kalau Donald memutuskan untuk balik Amrik aja for good, toh di Amrik tidak ada tempat / suasana yang bakal mengingatkan Donald pada si Maroon. Sementara Maroon sebelum amnesia - cuma mengenal Donald 3 hari  (jogging) - selama amnesia, dia "egois" dan tidak pernah tanya2 info pribadi Donald seperti alamat, no telp rumah, rumah ortu di mana dsb. Sementara ibu dan adik Maroon bukan tipe polisi interogasi data pribadi cowok yang ngapeli si Maroon. Hayo, cewek2, jawab Yunisa dong kapan kalian nodong alamat ortu cowok kalian?

No comments:

...........................................................................................
Memory & Destiny Hak cipta © 2010-2012 oleh Yunisa. Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.

Copyright © 2010-2012 by Yunisa. All rights reserved.
...........................................................................................